Exhibition · 2011
Pusaran Eksplorasi 1&2
Agus Kama Loedin adalah seniman multidisiplin berlatar belakang arkeologi (UGM & Leiden) dan animasi (Amsterdam). Selain berpengalaman di dunia periklanan, ia aktif berkarya dalam lukisan, fotografi, hingga patung/trimatra yang memadukan mitologi dan budaya modern secara bersahaja.
Penjelajahan Agus Kama Loedin. Dia seorang penjelajah, latar belakang pendidikanya semula arkeologi di Universitas Gajah Mada, kemudia memperdalam bidang itu lebih lanjut di Rijk Universiteit Leiden. Sebelum kemudian menekuni video dan produksi animasi di Open Studio Amsterdam, Belanda. Ia pernah bekerja sebagai guru dan pegawai honorer di pusat dokumentasi arkeologi Indonesia di Rijks Universiteit Leiden. Di Jakarta ia bekerja pada salah satu perusahaan iklan terbesar "Matari". Dan, di luar itu berkarya bebas ; lukis, fotografi, dan belakangan mengembangjan karya-karya trimatra. Semua nampak bersahaja, mengikuti gagasan visual dan citraan yang sebagian besar memperlihatkan tumpang tindih antara: tafsir visual atas mitologi dan budaya masa kini.
Di samping itu, sebagian karyanya mengingatkan kita pada pola-pola desain, kolase dan kriya yang bertumpu pada keterampilan tangan. semua agaknya didapatkan dari pembaruan pengalaman melihat dan meresapi budaya sehari-hari, trutama dari dua negara yaitu : Filipina dan Indonesia. Dan di dua negara itu pula dengan rentangan ribuan kilometer, ia ulang alik untuk keperluan kerja selaku direktur kreatif pada sebuah perusahaan iklan, dan selaku sosok kreatif bagi dirinya sendiri dengan karya-karya bebas sebagaimana tersaji dalam ruang pamer ini.
Karya-karyanya berpindah- pindah dari satu media ke media lainya. Bisa jadi itu tersebab ia tidak berlatang belakang pendidikan seni rupa formal yang biasanya bersikap rigid terhadap satu media. Pada karya-karyanya kita menemukan sebuah upaya tak menyerah, atau kekaguman berlebih pada teknologi masa kini. Boleh dikatakan bertopang pada keterampilan pada tanganya sendiri, pada fotografi misalnya, ia lebih mendekati ruang-ruang konseptual, dan menjauh dari mendorog kemungkinan-kemungkinan teknis dan memamerkan kecanggihan alat. Bahkan, ia tak berparak pada tema-tema stereotipe fotografi, sebuah lazimnya dilakukan oleh fotografer. Ia menjelajahi citraan optis yang tak bermuara dari efek digital, melainkan dengan cara-cara manual, yaitu proses tambal-menambal bidang perbidang sebagaimana layaknya kolase. Bagi Agus, aspek kerja tangan yang manual, dan makan waktu lama, itu lebih memungkinkanya meresapi realitas demi realitas yang dihadapinya.
Hal serupa diterapkanya dalam karya-karya lain. Dalam karya lukis dan karya-karya trimatra. Ia dominan memakai material kawat aluminium dan tembaga. material yang baginya memiliki sifat berlawanan, mudah dibentuk tapi juga sekaligus keras dan kua. Kawat-kawat menemukan dirinya serupa garis bebas, atau mungkin tumpukan arsir yang menguasai hampir seluruh bidang lukisnya. Atau membuat patung , dengan cara membentuk bidang-bidang cekung, cembung bergelombang, pipih dan lain sebagainya dari helai-helai kawat tersebut. Ia tak dipakai hanya untuk keperluan aspek visual, tapi dipilih sebab antara lain karena sifatnya yang paradoks tadi. Dan memungkinkan Agus lebih lama meresapi media tersebut. membentuknya dari sesuatu yang semula hanya bayang-bayang imajinasi, perlahan-lahan menjadi suatu rupa dan raga, lewat kedua belah tanganya.
Asikin Hasan
Di samping itu, sebagian karyanya mengingatkan kita pada pola-pola desain, kolase dan kriya yang bertumpu pada keterampilan tangan. semua agaknya didapatkan dari pembaruan pengalaman melihat dan meresapi budaya sehari-hari, trutama dari dua negara yaitu : Filipina dan Indonesia. Dan di dua negara itu pula dengan rentangan ribuan kilometer, ia ulang alik untuk keperluan kerja selaku direktur kreatif pada sebuah perusahaan iklan, dan selaku sosok kreatif bagi dirinya sendiri dengan karya-karya bebas sebagaimana tersaji dalam ruang pamer ini.
Karya-karyanya berpindah- pindah dari satu media ke media lainya. Bisa jadi itu tersebab ia tidak berlatang belakang pendidikan seni rupa formal yang biasanya bersikap rigid terhadap satu media. Pada karya-karyanya kita menemukan sebuah upaya tak menyerah, atau kekaguman berlebih pada teknologi masa kini. Boleh dikatakan bertopang pada keterampilan pada tanganya sendiri, pada fotografi misalnya, ia lebih mendekati ruang-ruang konseptual, dan menjauh dari mendorog kemungkinan-kemungkinan teknis dan memamerkan kecanggihan alat. Bahkan, ia tak berparak pada tema-tema stereotipe fotografi, sebuah lazimnya dilakukan oleh fotografer. Ia menjelajahi citraan optis yang tak bermuara dari efek digital, melainkan dengan cara-cara manual, yaitu proses tambal-menambal bidang perbidang sebagaimana layaknya kolase. Bagi Agus, aspek kerja tangan yang manual, dan makan waktu lama, itu lebih memungkinkanya meresapi realitas demi realitas yang dihadapinya.
Hal serupa diterapkanya dalam karya-karya lain. Dalam karya lukis dan karya-karya trimatra. Ia dominan memakai material kawat aluminium dan tembaga. material yang baginya memiliki sifat berlawanan, mudah dibentuk tapi juga sekaligus keras dan kua. Kawat-kawat menemukan dirinya serupa garis bebas, atau mungkin tumpukan arsir yang menguasai hampir seluruh bidang lukisnya. Atau membuat patung , dengan cara membentuk bidang-bidang cekung, cembung bergelombang, pipih dan lain sebagainya dari helai-helai kawat tersebut. Ia tak dipakai hanya untuk keperluan aspek visual, tapi dipilih sebab antara lain karena sifatnya yang paradoks tadi. Dan memungkinkan Agus lebih lama meresapi media tersebut. membentuknya dari sesuatu yang semula hanya bayang-bayang imajinasi, perlahan-lahan menjadi suatu rupa dan raga, lewat kedua belah tanganya.
Asikin Hasan
Selected Plates
A closer examination.
Each plate below is presented in the sequence curated for private view — the work unfolds as a moving editorial, each plate bearing its own inscription.
Inspired by this collaboration?
Every project begins with a private audience. Ours could be the conversation that redefines your next chapter.