Pameran Agus Kama Loedin dan Made "Uuk" Paramahita

Membayangkan sebuah pameran bersama dua orang seniman, publik pasti memiliki ekspektasi tertentu perihal karya-karya yang dipamerkan. Semacam keingintahuan pada gagasan yang melatar belakangi pertemuan keduanya, misalnya perihal sesuatu hal yang menyambungkan antara keduanya sehingga merasa perlu untuk hadir dalam sebuah pameran bersama. Sebagaimana pameran Agus Kama Loedin dan Made "Uuk" Paramahita, yang sepakat menggelar karya-karya mereka di Gallery Zen1. Karya-karya mereka sangat berbeda satu sama lain, Uuk memakai medium seni lukis cat akrilik, sedangkan Agus memakai media kawat aluminium dan eksplorasi media lainnya. Secara visual dan corak estetika karya-karya mereka sangat berbeda satu dengan lainnya. Kedua perbedaan visual yang mencolok tersebut tentu dapat memberikan pengayaan pengalaman visual yang menarik pada publik yang menyaksikan pameran ini.

Tetapi dalam pandangan dekat sebagai pemerhati seni rupa, saya dapat mencandra terdapat aspek yang seirama di dalam kreativitas mereka berdua. Yaitu perhatian mereka pada eksplorasi bentuk-formal, terutama pada penekanan aspek garis yang sama-sama ditopang dengan kemampuan sensibilitas terhadap pilihan media masing-masing. Latar eksplorasi kreatif tersebut menurut pandangan saya menjadi aspek penting dalam eksplorasi estetika karya-karya mereka.

Sadar atau tidak mereka telah memberlakukan media seni rupai sebagai wahana untuk melakukan pencarian estetika, Uuk saya kenal sejak sedari mahasiswa sekitar hampir dua tahun yang lalu telah berkutat dengan eksplorasi figurasi secara konsisten dan telaten terus-menerus diulik dalam karyanya. Alhasil terdapat pergerakan yang menarik pada karya-karyanya di pameran ini. Terlihat stabilitasnya semakin menguat dan perggerakanya pada kesadaran formal yang bermuara pada nilai karakter warna komposisi figurasi tidak lagi terbebani dengan ikatan untuk membangun narasi. Terlihat kebebasan dalam mengeksplorasi garis-garis ritmis yang lebih spontan namun tetap terkontrol. Karyanya memperlihatkan kekuatan bentuk sebagai komponen artistik yang membangun citra estetika. Walau mungkin kesadaran itu masih bersifat intuitif luruh dalam proses kreatifnya.

Begitu juga dalam karya-karya Agus Kama Loedin yang intens dalam mengolah media kawat aluminium berwarna. Karya-karyanya berangkat dari gagasan untuk mengeksplorasi aspek-aspek budaya tradisi yang menyebar secara difusi Asia hingga ke Nusantara. Penyebaran tersebut menghadirkan asimilasi khas daerah masing-masing, namun masih dapat dilihat benang merahnya terutama dalam bentuk langgam rupa, mulai dari seni arsitektur, seni patung, dan seni ornamental. Agus yang tinggal dan berkarya di Filipina mendapatkan media kawat aluminium yang sangat mudah dijangkau sebagai medium yang menantang untuk mentransmisikan gagasannya perihal nilai-nilai budaya tersebut. Dalam karya-karya yang dipamerkan ini, terlihat eksplorasi yang mengarah juga pada sensibilitas formal, karakter garis dari kawat menjadi komponen utama artistik yang membentuk citra estetik media tersebut. Agus menempatkan media kawat sebagai basis kreativitas yang tak terbatas oleh matra, selain membuat karya dua dimensi ia juga mengeksplorasi karya-karya berdimensi tiga matra, ia mengeksplorasi potensi kawat untuk menghadirkan representasi bentuk tiga dimensi, kekuatan kawat hadir justru dengan keterbatasannya, menghadirkan ruang-ruang transparan pada bentuk. Karakter yang dieksplorasi cukup luas, mulai dari ornamen dua dimensi hingga ke wujud karya tiga dimensi, memanfaatkan karakter garis dan warna material kawat aluminium yang mudah dibentuk.

Karakteristik dengan ritme selaras pada eksplorasi estetik mereka itulah, yang memberikan ruang untuk saya menawarkan sebuah pembacaan perihal keteraturan mereka dalam mengolah elemen rupa. Sehingga saya menawarkan judul "Formabilitas".
Formalabilitas sesungguhnya bukan kata baku, tetapi istilah bentukan memakai kata dasar forma dan abilitas, forma berarti bentuk dan abilitas yang berarti kemampuan. Bentuk dalam pembahasan ini bukan hanya merujuk pada bentuk-bentuk yang ada dalam kenyataan (realitas), tetapi bentuk (form) sebagai aspek formal di dalam seni rupa. Dalam persepsi seni rupa, realitas dari karya sesungguhnya tersusun dari pengolahan aspek formal dimulai dari garis, bidang, bentuk, warna dan tekstur, inilah komponen dasar pembentuk seni rupa. Komponen inilah yang melahirkan berbagai diorama visual di dalam karya, yang terwujud karena sensibilitas sang seniman. Sensibilitas itu adalah kemampuan motorik (kinestetik) yang telah dilatih dan dikuasai seniman, dapat disederhanakan keterampilan. Dengan kemampuan sensibilitas itulah seorang seniman dapat dengan mudah menerjemahkan ide atau imajinasi menjadi karya visual.

Formabilitas dalam hal ini dapat dimaknai sebagai kemampuan dalam melahirkan nilai artistik dan estetika. Persoalan ini sering dianggap remeh dan diabaikan, tetapi perlu disadari sesungguhnya tanpa penguasaan aspek formal dan kemampuan sensibilitas mustahil akan lahir karya-karya yang memiliki capaian estetika, inilah yang menjadi dasar pembacaan saya terhadap karya-karya Agus dan Uuk, sehingga memilih untuk menawarkan judul ini sebagai penekanan pada kehadiran mereka berdua untuk melaksanakan pameran bersama. Bahwa di balik perbedaan yang secara kasat mata terlihat pada karya-karya mereka yang berbeda secara medium, tema dan teknik, tetapi tersirat titik sambung yang selaras pada proses kreatif mereka meski itu tidak lagi disadari dan telah menjadi otomatis pada diri mereka masing-masing.

Karya-karya tersebut memperlihatkan kekuatan bentuk dengan keteraturan tertentu berupa ritme-ritme komposisi aspek formal sehingga menghadirkan fenomena estetik. Pengulangan yang repetitif pada karya-karya mereka tidak menjadikannya terlihat jenuh dan membosankan, justru sebaliknya memunculkan keteraturan baru yang menghadirkan nilai estetika yang khas sesuai pilihan media masing-masing. Keteraturan tersebut tercapai berkat penguasaan sensibilitas atau penguasaan media yang menyangkut teknik dan karakteristiknya.

Fenomena ini dapat dimaknai sebagai keteraturan yang tersimpan secara laten di balik kreativitas mereka, dan dimaknai sebagai sebentuk respon dalam menjalani tatanan normal baru setelah pandemi virus Covid-19 yang tak kunjung usai. Beberapa karya Uuk dan Agus memperlihatkan respon mereka secara visual terhadap persoalan pembatasan akibat Covid-19 tersebut. Dalam salah satu karyanya, Agus merespon dengan menghadirkan sosok figur patung bercorak 'primitif' yang berada terkurung dalam bulatan oval yang transparan terbuat dari jalinan kawat aluminium yang disusun secara rapi dan ritmis. Ketika Agus merespon secara simbolik perihal pembatasan dan keterkungan, sementara Uuk merespon dengan karya yang berjudul "Ketika Dunia Bersinar Kembali". Karya lukisnya ini dibuat dengan format kanvas bundar dengan menorehkan terusan warna putih, di tengah-tengah ada bentuk yang menyerupai monument atau figur. Karya-karya ini jelas merupakan sebentuk respon simbolik pada situasi pasca pandemi Covid-19.

Sebagaimana istilah normal baru kehidupan kita hari ini memang harus menyesuaikan diri dengan virus-virus yang kini telah hadir menjadi entitas dan berada dalam kesadaran manusia kontemporer. Virus itu nyata walaupun tidak dapat dilihat dengan mata, dapat dilihat simtom-nya dan akibatnya yang fatalistik menyebabkan perubahan besar wajah peradaban manusia. Virus itu seperti seni, yang juga selalu antara ada dan tiada serta tak lekang oleh zaman, karena ada di dalam sanubari insan-insan kreatif. Virus dan seni juga tidak pernah bisa 'mati' hidup subur dalam imaji dan ketaksadaran seniman. Sebagaimana halnya virus-virus kreatif yang tak pupus selalu dirawat oleh Agus Kama Loedin dan Made "Uuk" Paramahila, dengan eksplorasi formal karya-karya teranyamnya yang semakin kuat menyiratkan sensibilitas artistik yang bermuara pada citra estetika sesuai pilihan media mereka masing-masing. Itulah kekuatan eksplorasi bentuk-bentuk yang khas seni rupa, melalui keteraturan itulah seniman mengungkapkan imajinasi dan kegelisahannya mereka dengan jalan keindahan rupa.

Penulis: I Wayan Seriyoga Parta
couturebrandingaguskamaloedinexpoheritageartbyaguskamaloedinartexposenikawatwireartistwireartscluptureformabilitasartexhibitionindonesiaartistinternasionalartistartmarketfinartcontemporarysclupture
Selected Plates

A closer examination.

Each plate below is presented in the sequence curated for private view — the work unfolds as a moving editorial, each plate bearing its own inscription.

Plate 1
Plate 01 · 24
01 / 24

Inspired by this collaboration?

Every project begins with a private audience. Ours could be the conversation that redefines your next chapter.