Exhibition · 2024
Kembali Ke Akar
Seniman yang terlibat pameran ini menampilkan karya dari lima perupa, yaitu Made Gunawan, Agus Kama Loedin, Uuk Paramahita, Loka Suara, dan Made Wiradana. Meskipun kelima perupa tampil bersama dan berasal dari lingkungan pergaulan yang sama, mereka tidak menampilkan kesamaan. Masing" menyuarakan ide, rasa yang berbeda.
5 Kembali Ke Akar
Oleh Arif Bagus Prasetyo
Pameran Kembali ke Akar menghadirkan sejumlah karya pilihan dengan berbagai ciri dan kecenderungan visual. Lima perupa terlibat dalam pameran ini, yaitu Made Gunawan, Agus Kama Loedin, Uuk Paramahita, Loka Suara, dan Made Wiradana. Mereka menyuarakan ide, rasa, dan kersa melaui karya seni rupa yang mewakili keyakinan estetik dan pilihan artistik pribadi masing-masing. Dunia imajinasi yang tiada batas mereka jelajahi dalam aneka ungkapan kreatif. Meskipun tampil bersama dan berasal dari lingkungan pergaulan yang sama, mereka tidak menawarkan kesamaan. Mereka justru menyodorkan perbedaan. Karya mereka mengetengahkan keragaman tema, gaya maupun teknik.
Judul pameran ini, Kembali ke Akar, mengandung kata "kembali", yang berunsur kata "bali". Adanya elemen "bali" dalam tajuk pameran turut menandai identitas kelima perupa peserta yang semuanya berbasis di Bali. Made Gunawan, Uuk Paramahita, Loka Suara, dan Made Wiradana adalah orang Bali yang betah berkarya di pulau asal mereka. Agus Kama Loedin bukan orang Bali, namun perupa yang lama tinggal di Filipina ini belakangan juga kerasan tinggal di Pulau Dewata.
Tentu saja bukan hanya itu makna judul Kembali ke Akar. Bagi kelima perupa, ungkapan "kembali ke akar" merujuk pada persahabatan mereka yang telah berlangsung lama. Jalinan pertemanan mereka seakan-akan sudah mengakar. Pameran Kembali ke Akar merupakan momentum mereka untuk berkumpul lagi, untuk kembali ke akar persahabatan yang telah lama dipupuk. Bagi mereka, kata "akar" juga bermakna "kebebasan", yaitu kebebasan kreatif yang melandasi kerja berkesenian mereka. Keyakinan terhadap kebebasan kreatif itulah yang mereka rayakan dalam pameran ini dengan karya yang beragam, tidak terpatok pada tema tertentu.
Bagaimana pun, ungkapan "kembali ke akar" juga menyiratkan perhatian pada persoalan identitas. Salah satu tanda yang sering digunakan untuk membangun identitas adalah "akar", yang secara simbolis lazim dimaknai sebagai asal, asal mula, atau asal usul. Istilah "akar budaya", misalnya, umumnya berarti budaya tertentu (biasanya budaya tradisional atau budaya etnis) tempat identitas suatu kelompok sosial tertanam.
Hakikat identitas adalah kesamaan dengan diri sendiri dan perbedaan dengan pihak lain. Identitas adalah tentang apa yang membedakan satu pihak dengan pihak lain. Identitas memberikan lokasi personal yang teguh pada individu, dan menyediakan lokasi sosial yang kukuh pada kelompok.
Pada zaman sekarang, identitas terus-menerus digerus oleh globalisasi. Globalisasi memburamkan identitas. Peleburan berbagai lokasi personel dan lokasi sosial ke dalam arus global mudah menimbulkan krisis identitas. Redupnya identitas sering memicu kebingungan dan kegamangan sebagai akibat dari hilangnya pegangan atau "akar" yang sebelumnya memastikan lokasi eksistensial individu atau kelompok. Dari sudut pandang kebudayaan, globalisasi berpotensi menimbulkan penyeragaman budaya. Keanekaragaman identitas budaya bisa lenyap tersapu derasnya arus pusaran modal, informasi, dan interaksi global.
Disadari atau tidak, pameran Kembali ke Akar tampak menyentuh perkara identitas. Dengan cara masing-masing, dalam kadar yang berbeda-beda, karya para perupa peserta pameran terasa menggemaan gagasan tentang identitas.
Made Gunawan menampilkan karya-karya yang pekat dengan tanda identitas budaya Bali. Lukisannya bersubjek utama sosok non-manusia yang menyerupai ikonografi makhluk mitologis Bali. Salah satunya, hewan persilangan antara gajah dan ikan yang dalam mitos populer di Bali dikenal dengan sebutan "gajah mina". Sosok mitologis dilukiskan secara dekoratif dengan sentuhan ornamen khas Bali.
misalnya bentuk hiasan kepala seperti yang terdapat pada karakter barong.
Gunawan menyuarakan gagasan bahwa identitas tidak terpisahkan dari proses sosialisasi dalam konteks budaya tertentu. Karyanya diresapi pandangan tentang identitas sebagai keberlanjutan atau keajekan yang memiliki akar kuat pada satu asal muasal hakiki. Dalam kasus Gunawan, akar itu adalah budaya tradisional Bali.
Agus Kama Loedin mendekati persoalan identitas dari dua mepasan. Pertama, bentuk. Kedua, isi. Dari jurusan bentuk, karya Agus yang berbahan kawat tampak memperkarakan identitas formal konvensional patung dan lukisan. Patung kawatnya mengganggu pengertian populer tentang "patung" sebagai wujud pejal solid, antara lain dengan banyak mengeksploitasi rongga dan kesan kerentanan. Sementara itu, lukisan kawatnya menggoyang paham tentang "lukisan" yang secara tradisional diidentikkan dengan bidang datar. Agus tampak memosisikan lukisannya di wilayah kategoris ambang identitas antara dwimatra dan trimatra.
Dari jurusan isi, karya Agus tak jarang mengusung tema yang berkaitan dengan identitas budaya. Contohnya adalah karya berjudul "Sedulur Papat Lima Pancer". Dalam budaya tradisional Jawa dan Bali, "sedulur papat lima pancer" (istilah Jawa; dikenal dengan istilah lain di Bali) mengacu pada empat saudara kandung mistis yang menemani setiap orang sejak dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Agus selama ini dikenal sebagai perupa yang kerap diilhami warisan budaya tradisional, misalnya kain tenun ikat Nusantara.
Melalui lukisan tentang hal-hal yang dekat dengan dirinya, Uuk Paramahita tampak memandang identitas sebagai konstruksi. Identitas dipahami dalam kaitannya dengan proses-proses makro yang kompleks, terutama tatanan sosial dan tatanan alam. Ada proses sosial dan proses alam yang membentuk identitas. Disimbolkan dengan figur manusia yang hanya merupakan bagian kecil dari lanskap alami maupun lanskap artifisial dalam lukisan, identitas selalu terikat pada dinamika proses bersama.
Dengan desain menyerupai mosaik, lukisan Uuk menyiratkan bahwa identitas dikonstruksi secara fragmentaris dari kepingan berbagai sumber dalam kebudayaan. Identitas bersifat cair dan hibrid, muncul dari proses difusi dan asimilasi kultural yang intensif. Itulah situasi di era global, masa ketika identitas sangat dipengaruhi oleh penyebaran ciri maupun pengaruh dari satu budaya ke budaya lain.
Loka Suara tampak menafsirkan identitas dalam konteks diri manusia. Dia memusatkan perhatian pada penjelajahan unsur ekspresi diri untuk menggali pemahaman tentang hakikat diri. Diri dimaknai sebagai "jiwa". Pemaknaan itu ditampilkan melalui penggambaran figur manusia dengan menekankan ekspresi wajah di latar situasi tertentu yang mewakili aktivitas kehidupan batin.
Dalam lukisan Loka, penggambaran wajah manusia bukan upaya untuk mengejar kemiripan dengan realitas. Alih-alih, Loka melukis wajah untuk menggali karakter, temperamen atau identitas diri figur. Ekspresi wajah ditekankan untuk mencerminkan gerak jiwa. Wajah memantulkan kehidupan emosional dan intelektual di kedalaman diri.
Made Wiradana mengetengahkan lukisan berciri ungkapan visual naif yang mengingatkan pada bentuk khas gambar anak-anak atau lukisan primitif. Aneka citra dengan kualitas datar nyaris memenuhi bidang lukisan. Manusia, hewan, dan tumbuhan digambarkan dengan cara yang sangat reduktif dan spontan. Komposisinya mengusung suasana ceria dan selera humor. Segala sesuatu dalam lukisan seolah berada di tengah festival meriah. Sang seniman meramu pengalaman sehari-hari dan imajinasi menjadi narasi visual yang aneh, fantastis, tetapi segar.
Dalam lukisan Wiradana, persoalan identitas tercermin dari perhatian terhadap transformasi besar alam dan budaya yang dialami Bali di era global. Karyanya kerap menggambarkan kerumunan figur anonim dan pelajaran antara cara hidup lama dangaya hidup baru, yang biadab dan beradab. Yang provan dan sakral. Hal itu dapat dibaca sebagai tanggapan seniman terhadap "identitas" Bali kontenporer yang ditandai dengan kepadatan penduduk dan campur aduk segala macam. Wiradana mengubah garis, Warna, dan tekstur menjadi komposisi ritmis yang mewakili pencarianya terhadap keteraturan dalam kekacauan.
Persoalan identitas merupakan salah satu wacana penting dalam seni rupa kontemporer. Pasalnya, seni rupa kontemporer merayakan keanekaragaman, namun ditopang oleh proses globalisasi yang justru berdampak menyeragamkan. Pameran Kembali ke Akar dapat dibaca sebagai metafora untuk tegangan antara identitas dan globalisasi di balik lanskap seni rupa kontemporer yang dijelajahi oleh kelima perupa.
Oleh Arif Bagus Prasetyo
Pameran Kembali ke Akar menghadirkan sejumlah karya pilihan dengan berbagai ciri dan kecenderungan visual. Lima perupa terlibat dalam pameran ini, yaitu Made Gunawan, Agus Kama Loedin, Uuk Paramahita, Loka Suara, dan Made Wiradana. Mereka menyuarakan ide, rasa, dan kersa melaui karya seni rupa yang mewakili keyakinan estetik dan pilihan artistik pribadi masing-masing. Dunia imajinasi yang tiada batas mereka jelajahi dalam aneka ungkapan kreatif. Meskipun tampil bersama dan berasal dari lingkungan pergaulan yang sama, mereka tidak menawarkan kesamaan. Mereka justru menyodorkan perbedaan. Karya mereka mengetengahkan keragaman tema, gaya maupun teknik.
Judul pameran ini, Kembali ke Akar, mengandung kata "kembali", yang berunsur kata "bali". Adanya elemen "bali" dalam tajuk pameran turut menandai identitas kelima perupa peserta yang semuanya berbasis di Bali. Made Gunawan, Uuk Paramahita, Loka Suara, dan Made Wiradana adalah orang Bali yang betah berkarya di pulau asal mereka. Agus Kama Loedin bukan orang Bali, namun perupa yang lama tinggal di Filipina ini belakangan juga kerasan tinggal di Pulau Dewata.
Tentu saja bukan hanya itu makna judul Kembali ke Akar. Bagi kelima perupa, ungkapan "kembali ke akar" merujuk pada persahabatan mereka yang telah berlangsung lama. Jalinan pertemanan mereka seakan-akan sudah mengakar. Pameran Kembali ke Akar merupakan momentum mereka untuk berkumpul lagi, untuk kembali ke akar persahabatan yang telah lama dipupuk. Bagi mereka, kata "akar" juga bermakna "kebebasan", yaitu kebebasan kreatif yang melandasi kerja berkesenian mereka. Keyakinan terhadap kebebasan kreatif itulah yang mereka rayakan dalam pameran ini dengan karya yang beragam, tidak terpatok pada tema tertentu.
Bagaimana pun, ungkapan "kembali ke akar" juga menyiratkan perhatian pada persoalan identitas. Salah satu tanda yang sering digunakan untuk membangun identitas adalah "akar", yang secara simbolis lazim dimaknai sebagai asal, asal mula, atau asal usul. Istilah "akar budaya", misalnya, umumnya berarti budaya tertentu (biasanya budaya tradisional atau budaya etnis) tempat identitas suatu kelompok sosial tertanam.
Hakikat identitas adalah kesamaan dengan diri sendiri dan perbedaan dengan pihak lain. Identitas adalah tentang apa yang membedakan satu pihak dengan pihak lain. Identitas memberikan lokasi personal yang teguh pada individu, dan menyediakan lokasi sosial yang kukuh pada kelompok.
Pada zaman sekarang, identitas terus-menerus digerus oleh globalisasi. Globalisasi memburamkan identitas. Peleburan berbagai lokasi personel dan lokasi sosial ke dalam arus global mudah menimbulkan krisis identitas. Redupnya identitas sering memicu kebingungan dan kegamangan sebagai akibat dari hilangnya pegangan atau "akar" yang sebelumnya memastikan lokasi eksistensial individu atau kelompok. Dari sudut pandang kebudayaan, globalisasi berpotensi menimbulkan penyeragaman budaya. Keanekaragaman identitas budaya bisa lenyap tersapu derasnya arus pusaran modal, informasi, dan interaksi global.
Disadari atau tidak, pameran Kembali ke Akar tampak menyentuh perkara identitas. Dengan cara masing-masing, dalam kadar yang berbeda-beda, karya para perupa peserta pameran terasa menggemaan gagasan tentang identitas.
Made Gunawan menampilkan karya-karya yang pekat dengan tanda identitas budaya Bali. Lukisannya bersubjek utama sosok non-manusia yang menyerupai ikonografi makhluk mitologis Bali. Salah satunya, hewan persilangan antara gajah dan ikan yang dalam mitos populer di Bali dikenal dengan sebutan "gajah mina". Sosok mitologis dilukiskan secara dekoratif dengan sentuhan ornamen khas Bali.
misalnya bentuk hiasan kepala seperti yang terdapat pada karakter barong.
Gunawan menyuarakan gagasan bahwa identitas tidak terpisahkan dari proses sosialisasi dalam konteks budaya tertentu. Karyanya diresapi pandangan tentang identitas sebagai keberlanjutan atau keajekan yang memiliki akar kuat pada satu asal muasal hakiki. Dalam kasus Gunawan, akar itu adalah budaya tradisional Bali.
Agus Kama Loedin mendekati persoalan identitas dari dua mepasan. Pertama, bentuk. Kedua, isi. Dari jurusan bentuk, karya Agus yang berbahan kawat tampak memperkarakan identitas formal konvensional patung dan lukisan. Patung kawatnya mengganggu pengertian populer tentang "patung" sebagai wujud pejal solid, antara lain dengan banyak mengeksploitasi rongga dan kesan kerentanan. Sementara itu, lukisan kawatnya menggoyang paham tentang "lukisan" yang secara tradisional diidentikkan dengan bidang datar. Agus tampak memosisikan lukisannya di wilayah kategoris ambang identitas antara dwimatra dan trimatra.
Dari jurusan isi, karya Agus tak jarang mengusung tema yang berkaitan dengan identitas budaya. Contohnya adalah karya berjudul "Sedulur Papat Lima Pancer". Dalam budaya tradisional Jawa dan Bali, "sedulur papat lima pancer" (istilah Jawa; dikenal dengan istilah lain di Bali) mengacu pada empat saudara kandung mistis yang menemani setiap orang sejak dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Agus selama ini dikenal sebagai perupa yang kerap diilhami warisan budaya tradisional, misalnya kain tenun ikat Nusantara.
Melalui lukisan tentang hal-hal yang dekat dengan dirinya, Uuk Paramahita tampak memandang identitas sebagai konstruksi. Identitas dipahami dalam kaitannya dengan proses-proses makro yang kompleks, terutama tatanan sosial dan tatanan alam. Ada proses sosial dan proses alam yang membentuk identitas. Disimbolkan dengan figur manusia yang hanya merupakan bagian kecil dari lanskap alami maupun lanskap artifisial dalam lukisan, identitas selalu terikat pada dinamika proses bersama.
Dengan desain menyerupai mosaik, lukisan Uuk menyiratkan bahwa identitas dikonstruksi secara fragmentaris dari kepingan berbagai sumber dalam kebudayaan. Identitas bersifat cair dan hibrid, muncul dari proses difusi dan asimilasi kultural yang intensif. Itulah situasi di era global, masa ketika identitas sangat dipengaruhi oleh penyebaran ciri maupun pengaruh dari satu budaya ke budaya lain.
Loka Suara tampak menafsirkan identitas dalam konteks diri manusia. Dia memusatkan perhatian pada penjelajahan unsur ekspresi diri untuk menggali pemahaman tentang hakikat diri. Diri dimaknai sebagai "jiwa". Pemaknaan itu ditampilkan melalui penggambaran figur manusia dengan menekankan ekspresi wajah di latar situasi tertentu yang mewakili aktivitas kehidupan batin.
Dalam lukisan Loka, penggambaran wajah manusia bukan upaya untuk mengejar kemiripan dengan realitas. Alih-alih, Loka melukis wajah untuk menggali karakter, temperamen atau identitas diri figur. Ekspresi wajah ditekankan untuk mencerminkan gerak jiwa. Wajah memantulkan kehidupan emosional dan intelektual di kedalaman diri.
Made Wiradana mengetengahkan lukisan berciri ungkapan visual naif yang mengingatkan pada bentuk khas gambar anak-anak atau lukisan primitif. Aneka citra dengan kualitas datar nyaris memenuhi bidang lukisan. Manusia, hewan, dan tumbuhan digambarkan dengan cara yang sangat reduktif dan spontan. Komposisinya mengusung suasana ceria dan selera humor. Segala sesuatu dalam lukisan seolah berada di tengah festival meriah. Sang seniman meramu pengalaman sehari-hari dan imajinasi menjadi narasi visual yang aneh, fantastis, tetapi segar.
Dalam lukisan Wiradana, persoalan identitas tercermin dari perhatian terhadap transformasi besar alam dan budaya yang dialami Bali di era global. Karyanya kerap menggambarkan kerumunan figur anonim dan pelajaran antara cara hidup lama dangaya hidup baru, yang biadab dan beradab. Yang provan dan sakral. Hal itu dapat dibaca sebagai tanggapan seniman terhadap "identitas" Bali kontenporer yang ditandai dengan kepadatan penduduk dan campur aduk segala macam. Wiradana mengubah garis, Warna, dan tekstur menjadi komposisi ritmis yang mewakili pencarianya terhadap keteraturan dalam kekacauan.
Persoalan identitas merupakan salah satu wacana penting dalam seni rupa kontemporer. Pasalnya, seni rupa kontemporer merayakan keanekaragaman, namun ditopang oleh proses globalisasi yang justru berdampak menyeragamkan. Pameran Kembali ke Akar dapat dibaca sebagai metafora untuk tegangan antara identitas dan globalisasi di balik lanskap seni rupa kontemporer yang dijelajahi oleh kelima perupa.
Selected Plates
A closer examination.
Each plate below is presented in the sequence curated for private view — the work unfolds as a moving editorial, each plate bearing its own inscription.
Inspired by this collaboration?
Every project begins with a private audience. Ours could be the conversation that redefines your next chapter.