Mlungsungi lan Pilih
Dan Bentuk-Bentuk Tidak Lazim dari Agus Kama Loedin

Sore itu, empat bulan yang lalu, saya berkunjung ke penginapan Agus Kama Loedin, sahabat yang saya kenal 5 tahun sebelumnya ketika ia berpameran di Sangkring Art Space dengan tajuk PUSARAN EKSPLORASI. Agus kala itu memamerkan karya-karya 3 dimensi dan karya-karya 2 dimensi yang hampir semuanya dibuat dari kawat. Saya kagum dengan keterampilannya mengelola kawat, namun sayang karyanya masih berdiri sendiri-sendiri dan tidak membangun satu narasi yang runtut.

Maka saya bertanya pada Agus tentang peristiwa apa yang menginterupsi proses kerjanya kali ini?

Sementara Agus meneruskan ceritanya, saya jadi teringat pada peristiwa pada sepuluh tahun silam, pandai meramal cuaca, dan berpikir tidak seperti biasanya. Ada banyak perubahan yang rasa saya janggal terjadi pada waktu itu, namun seiring berjalanya waktu semua kembali biasa saja.

Agus yang telah menunggu saya, segera menyambut saya dengan sapaan khas Suroboyonya yang tidak pernah luntur dari gaya bicaranya meski sudah lama tinggal di Filipina. Setelah mempersilahkan saya duduk, ia tertawa memandang saya, dan saya pun ikut tertawa. Sesaat kemudian kami menarik nafas panjang, dan segera sesudah itu kami pun mulai berbagi cerita tentang kisah-kisah menarik yang terjadi selama lima tahun tidak bertemu. Satu persatu nama kawan yang kami kenal muncul dalam pembicaraan, sampai akhirnya kami pun mulai menanyakan apa yang sedang masing-masing kerjakan.

Agus kemudian menjelaskan bahwa, kedatangannya kembali ke Jogja adalah untuk membicarakan tentang pamerannya yang kedua di Jogja. Ia merasa perlu untuk menyapa kembali pencinta seni Jogja, sekaligus mengukur capaian-capaiannya yang terkini. Jika pada pameran sebelumnya ia telah menunjukkan usahanya untuk mengenal dan mengelola kawat, maka pada pameran berikutnya ia ingin menunjukkan bagaimana kawat mengelola dirinya.

Maka dengan penuh semangat ia menunjukan foto karya-karya terbarunya. Satu persatu ia tunjukan sambil menyebut judul untuk masing-masing karya. Ada yang diberi judul Kebo Geger Lintang, ada pula Kerang Kembar Siam, Graha Mataharu, Mlungsungi Lan Milih, dan masih ada beberapa lagi yang judulnya terdengar lucu.

Kali ini ia mengeksplorasi tema perubahan alam yang merubah organisme di dalamnya. Bentuk-bentuk tidak lazim dari perubahan fisik organisme menjadi inspirasi bagi bentuk-bentuk dari karyanya, seperti Kerang Kembar Siam, adalah penggambaran mutasi yang terjadi pada kerang itu sendiri. Atau Kebo Geger Lintang, adalah bagaimana kerbau bermutasi dengan ikan hiu paus untuk bertahan hidup. Kalau cuma cumi adalah mutasi cumi-cumi yang merasa perlu ditambahkan elemen tanduk pada badanya.

Menurut Agus, perubahan alam tidak hanya menyebabkan perubahan fisik secara langsung tapi juga menyebabkan perubahan prilaku yang akhirnya mengakibatkan perubahan fisik. Seperti karya Mlusungi Lan Milih, manusia berganti kulit seperti ular dan juga bertangan dan kaki empat, yang telah proses ganti kulit selesai manusia pun harus memilih kaki daan tangan mana yang dia pilih untuk melanjutkan hidupnya. Sedangkan Graha Mataharu adalah perubahan konsep matahari yang pada umumnya digambarkan sebagai simbol maskulin dan feminine.

Sementara Agus meneruskan ceritanya...., saya jadi teringat pada peristiwa sepuluh tahun silam, ketika Jogja diguncang gempa besar. Orang tiba-tiba berubah menjadi ahli membaca alam, pandai meramal cuaca, dan berpikir tidak seperti biasanya. Ada banyak perubahan yang saya rasa janggal terjadi pada waktu itu, namun seiring berjalannya waktu semua kembali biasa saja.

Terlepas dari persoalan dahsyatnya perubahan alam, saya justru lebih tertarik pada bagaimana Agus menemukan judul-judul untuk karyanya. Seperti Mlungsungi lan Milih, tautan kata-kata yang ia temukan ini tidak pernah saya dengar sebelumnya, namun menggelitik di telinga. Atau judul lain seperti Cuma Cumi yang bisa membuat isteri saya tertawa terpingkal-pingkal. Dari sekian judul karya yang ia sampaikan, masing-masing judul mampu memunculkan perasaan yang berbeda.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk menyelidiki bagaimana Agus berpikir. Untuk itu saya merasa perlu mengetahui bagaimana Agus berproses. Lalu saya bertanya kepada Agus tentang kesulitan apa yang ia hadapi ketika berproses dengan kawat?

Saya pun kemudian bertanya tentang berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan sebuah karya?

Agus tidak dapat menjawab pasti, namun yang jelas... pekerjaan yang ia lakukan ini membutuhkan intensitas tinggi, karena ketika pagi ia mulai bekerja, maka sampai malam baru ia berhenti. Ketika siang ia mulai bekerja, sampai malam pula baru ia berhenti. Tak peduli dalam kondisi apa ia mulai bekerja, sampai lelah baru ia berhenti.

Menurut saya, cara kerja seperti yang Agus sampaikan adalah cara kerja yang dihasilkan oleh kenikmatan yang mencandu. Cara kerja demikian biasanya mampu menemukan iramanya sendiri, sehingga orang yang bekerja dengan cara ini, dapat merasa nyaman walau berada dalam kesendirian yang makin mengasingkan dirinya dari lingkungan sekitarnya. Cara kerja seperti ini sebenarnya sangat beresiko. Tapi biasanya, kenyamanan dalam keterasingan tidak pernah berlangsung lama, interupsi-interupsi dari lingkungan sekitar kadang muncul merubah irama, dan dinamikanya mampu menghasilkan distorsi-distorsi yang jenaka atau ketidaklaziman yang menyentuh perasaan.

Agus pun menuturkan bahwa dalam prosesnya kali ini, ia sering mendapat interupsi dari anak-anaknya yang telah tumbuh jadi remaja, dan interupsi lain yang mengguncang dirinya adalah saat ia kehilangan seorang sahabat, teman berbagi kisah dan teman berbagi kerja....

Saya pun akhirnya tidak berani melanjutkan percakapan ini....
Saya yakin Agus telah menjalani proses yang dalam dan melelahkan untuk pamerannya kali ini. la telah mengulur, menekuk, mengikat, dan menganyam dalam ketekunan untuk melenturkan kekerasan hatinya, dan mengubah dirinya yang maskulin menjadi lebih feminin.

Pius Sigit, Sahabat Agus Kama Loedin


artbyaguskamaloedintransfomeartexhibitionartexpowireartcontenporaryaguskamaloedinexpowirewefingartwirescluptorartwireartcontemporarysclupcuremixedmediaartworkmixmediaartindonesiaratistinternasionalartistartexhibitionsenirupakontenporersenikawatpatungkawatvisualart
Selected Plates

A closer examination.

Each plate below is presented in the sequence curated for private view — the work unfolds as a moving editorial, each plate bearing its own inscription.

Plate 1
Plate 01 · 25
01 / 25

Inspired by this collaboration?

Every project begins with a private audience. Ours could be the conversation that redefines your next chapter.