Exhibition · 2026
Jaga Raga Bara Jiwa Tiga
Naga Yang Menggoda, Oleh Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana. Seniman Agus Kama Loedin menggabungkan latar belakang arkeologi, fotografi, dan eksplorasi material (kawat, kulit kerbau, plastik, batu) untuk membentuk sosok mitologis Naga. pameran ini mengajak penikmat seni merenungkan dan merefleksikan warisan, jadi kebaruan.
Naga-Naga Karya Agus Kama Loedin
Oleh Bramantyo Prijosusilo
Agus Kama Loedin, Lahir di Surabaya pada 11 Oktober 1962, adalah seniman mixed media Indonesia yang karyanya mencakup antara arkeologi, fotografi, video, animasi, dan eksperimen material. ia menepuh studi Arkeologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan kemudian di Universitas Leidin, Belanda. Ia juga mempelajari penyuntingan video dan produksi animasi di Open Studio di Amsterdam. diluar pendidikan formal, Ia mendapatkan pendidikan seni rupa di AKSERA, akademi seni rupa Surabaya, serta plajaran privat menggambar dan melukis bersama mendiang pelukis surabaya, Amang Rahchman. Agus memiliki pengalaman yang panjang dan telah menggelar pameran di Indonesia, Filipina, Belanda, Italia, Serbia dan Vietnam.
Selama bertahun-tahun Agus mengembangkan praktik anistik yang berfokus pada budaya, ingatan, jejak manusia, serta eksplorasi gagasan tradisional, dengan memanfaatkan material tradisional maupun kontenporer seperti kulit kerbau dan kawat, menggunakan teknik anyaman, inilay, kontruksi permukaan untuk mengeksplorasi warisan, filsafat, serta hubungan antara masa lalu dan masa kin. pameran naga Bali ini menunjukan lintasan tersebut, mempertemukan kecerdasan material dengan refleksi kultural.
salah satu karya kecil berukuran tiga puluh x tiga puluh cm pada pamerian ini menampilkan seekor naga yang terbingkai dalam kulit kerbau. Karya terdisiplin tuntas, tersusun geometri berklopak empat yang hampir menyerupai mandala, dengan kontur luar yang mengisyaratkan bentuk salib, perisai atau bentuk denah bunga maupun arsitekstur yang di rentangkan. Simetrinya ketat namun tidak mekanis, sementaraa garis pengikat merah membagi permukaaan menjadi panel-panel, ,emciptakan keteggangan antara keterkungkungan dan aliran, dengan naga di pusat terkomprosi, melingkar, dan tertahan.
Material yang digunakan bersifat struktural, bukan sekedar dekoratif. Kulit kerbau dengan sifat tembus cahaya, nada warna yang tidak merata, serta jejak-jejak alaminya, membawa asosiasi pada wayang kulit dan berfungsi sebagai permukaan sekaligus medan ingatan seolah-olah sebuah kulit yang pernah hidup. Kawat tembaga dan aluminium berfungsi sebagai garis sekaligus pengikat, tembaga berwarna keemasan mendefinisikan bentuk luar dan tepi ornamen, sementara kawat merah dan hitam membangun sosok naga dan pembagian internal.
Ikatan merah ini krusial, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai "jahitan" yang menahan, menyambung dan menjaga keutuhan bentuk. Naga itu sendiri berkembang keluar, melainkan melingkar kedalam dan terkurung, seolah tertahan oleh geometri di skitarnya. Dalam kosmologi Bali dan Nusantara yang lebih luas, naga berkaitan dengan air dan Bumi, dan energi dunia bawah, kerap berfungsi sebagai penopang dasar. disini alih-alih menopang dunia, ia justru ditahan oleh sebuah kerangka buatan, dengan warna merah dan hitam yang memperkuat rasa dualitas energi dan bahaya, daya hidup dan kendali.
Dua sistem bekerja secara bersamaan: sistem organik dari kulit, bentuk naga, dan jejak permukaan yang tak beraturan; serta sistem konstruktifberupa geometri kawat, simetri, dan segmentasi. Karya ini berada dalam gesekan antara keduanya. Naga berasal dari ranah organik, namun dipaksa masuk ke dalam struktur konstruktif. Ornamen tembaga di bagian luar, yang mengingatkan pada dekorasi wayang, motif ukiran candi, dan kerajinan logam, tetap ringan dan hampir seperti rangka, menciptakan kontras di mana Pusat terasa padat dan tegang, sementara tepi terbuka dan bersifat seremonial.
Yang muncul bukanlah citra naratif, melainkan suatu keadaan. Karya ini menghadirkan pengurangan energi, penerapan disiplin atas kekuatan, serta pembentukan budaya atas sesuatu yang lebih tua dan elemental. Naga tidak bebas, melainkan terstruktur, terikat, dan dihadirkan. Karya lain menampilkan naga dalam keadaan bebas, melingkar dengan kepala terangkat megah. Karya ini lebih ekspansif dan kurang terkungkung dibanding karya sebelumnya, dan pergeseran ini bersifat menentukan. Naga tidak lagi ditahan dalam geometri tetap, melainkan hadir sebagai tubuh tiga dimensi yang sepenuhnya terartikulasikan, melingkar, bangkit, dan memproyeksikan diri ke ruang. Strukturnya dibangun melalui kisi-kisi potongan kulit kerbau yang dianyam dan diikat dengan kawat tembaga, membentuk tubuh yang sekaligus rangka dan berotot. Kulit yang dipotong menjadi pita-pita berulang menciptakan rritme segmentasi yang mengingatkan pada konstruksi anatomi sekaligus kerajinan anyam, sementara ikatan tembaga memperkuat setiap sambungan dan jahitan, menjadikan proses konstruksi tampak jelas, bukan tersembunyi. Transparansi ini menjadi inti karya. Naga bukan massa padat, melainkan bentuk yang dirakit, bagian demi bagian, seperti artefak atau organisme yang direkonstruksi.
Bagian kepada menjadi zona kompleksitas paling padat. Anyaman kawat semakin rapat dan ornamental, membentuk mahkota yang merujuk langsung pada bahasa dekoratif Bali, sementara elemen menjulang akar di sekujur, mengingatkan terhadap akar yang menghidupkan keseluruhan bentuk. Proyeksi tubuh dengan tidak menjulur mendorong ke luar ruang, menciptakan dorongan karya kembali pada dirinya dan pada alasnya. Elemen ekor kecil yang terangkat di bagian belakang berfungsi sebagai sumbu sekunder, menstrukturkan komposisi dan mencegah energi ke depan menjadi semata-mata linear.
Secara material, interaksi antara kulit kerbau dan kawat lembaga terus membawa bobot struktural sekaligus simbolik. Kulit mempertahankan kualitasnya sebagai "kulit"—bertanda, tak seragam, mengisyaratkan usia, penggunaan, dan transformasi—sementara kawat tembaga menghadirkan presisi, kendali, dan ornamen. Hasilnya adalah ketegangan antara materi organik dan tatanan konstruktif. Berbeda dengan karya sebelumnya, di mana naga terkurung dalam sistem planar, di sini naga menegaskan dirinya secara spasial, namun tetap terikat oleh proses pembuatannya. Setiap lengkung, sambungan, dan perpanjangan bergantung pada ikatan yang tampak atau menyaksikannya.
Efek keseluruhannya adalah keseimbangan antara vitalitas dan kendali. Naga melingkar dan bangkit dengan energi, kepalanya memproyeksikan diri ke luar, namun energi tersebut terus dinegosiasikan melalui disiplin material dan struktur. Karya ini tidak menampilkan naga sebagai lambang mitologis yang halus, melainkan sebagai sesuatu yang direkonstruksi, berlapis, dan bersifat kontingen. Ia sekaligus makhluk dan artefak, sekaligus kekuatan hidup dan bentuk rakitan.
Seluruh karya dalam pameran ini dengan kuat mencerminkan latar belakang arkeologi Agus. Mereka tidak memperlakukan naga sebagai citra mitologis yang mulus, melainkan sebagai sesuatu yang digali, direkonstruksi, dan ditarik ulang. Kulit kerbau mengisyaratkan kulit, perkamen, relik, dan material wayang, sementara kawat tembaga berfungsi seperti pengikat, perbaikan, pemetaan, dan nosional struktural. Dalam beberapa karya, naga menjadi kekuatan yang diawetkan, tertahan dalam kerangka statis. Dalam karya lain, naga bangkit ke dalam dimensi tiga dan penjelmaan baru sebagai altar fungsional atau organisme yang direkonstruksi—diperkuat oleh alur penelusuran, ikatan, dan jahitan yang terlihat. Tubuhnya terasa ranga, arsitektural, sekaligus hidup. Bersama-sama, karya-karya ini menunjukkan arkeologi bukan sekuritas sebagai artefak, melainkan sebagai metode. Agus membangun budaya sebagai sesuatu yang bernapas, rusak, diingat, diperbaiki, dan dihidupkan kembali.
Oleh Bramantyo Prijosusilo
Agus Kama Loedin, Lahir di Surabaya pada 11 Oktober 1962, adalah seniman mixed media Indonesia yang karyanya mencakup antara arkeologi, fotografi, video, animasi, dan eksperimen material. ia menepuh studi Arkeologi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan kemudian di Universitas Leidin, Belanda. Ia juga mempelajari penyuntingan video dan produksi animasi di Open Studio di Amsterdam. diluar pendidikan formal, Ia mendapatkan pendidikan seni rupa di AKSERA, akademi seni rupa Surabaya, serta plajaran privat menggambar dan melukis bersama mendiang pelukis surabaya, Amang Rahchman. Agus memiliki pengalaman yang panjang dan telah menggelar pameran di Indonesia, Filipina, Belanda, Italia, Serbia dan Vietnam.
Selama bertahun-tahun Agus mengembangkan praktik anistik yang berfokus pada budaya, ingatan, jejak manusia, serta eksplorasi gagasan tradisional, dengan memanfaatkan material tradisional maupun kontenporer seperti kulit kerbau dan kawat, menggunakan teknik anyaman, inilay, kontruksi permukaan untuk mengeksplorasi warisan, filsafat, serta hubungan antara masa lalu dan masa kin. pameran naga Bali ini menunjukan lintasan tersebut, mempertemukan kecerdasan material dengan refleksi kultural.
salah satu karya kecil berukuran tiga puluh x tiga puluh cm pada pamerian ini menampilkan seekor naga yang terbingkai dalam kulit kerbau. Karya terdisiplin tuntas, tersusun geometri berklopak empat yang hampir menyerupai mandala, dengan kontur luar yang mengisyaratkan bentuk salib, perisai atau bentuk denah bunga maupun arsitekstur yang di rentangkan. Simetrinya ketat namun tidak mekanis, sementaraa garis pengikat merah membagi permukaaan menjadi panel-panel, ,emciptakan keteggangan antara keterkungkungan dan aliran, dengan naga di pusat terkomprosi, melingkar, dan tertahan.
Material yang digunakan bersifat struktural, bukan sekedar dekoratif. Kulit kerbau dengan sifat tembus cahaya, nada warna yang tidak merata, serta jejak-jejak alaminya, membawa asosiasi pada wayang kulit dan berfungsi sebagai permukaan sekaligus medan ingatan seolah-olah sebuah kulit yang pernah hidup. Kawat tembaga dan aluminium berfungsi sebagai garis sekaligus pengikat, tembaga berwarna keemasan mendefinisikan bentuk luar dan tepi ornamen, sementara kawat merah dan hitam membangun sosok naga dan pembagian internal.
Ikatan merah ini krusial, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai "jahitan" yang menahan, menyambung dan menjaga keutuhan bentuk. Naga itu sendiri berkembang keluar, melainkan melingkar kedalam dan terkurung, seolah tertahan oleh geometri di skitarnya. Dalam kosmologi Bali dan Nusantara yang lebih luas, naga berkaitan dengan air dan Bumi, dan energi dunia bawah, kerap berfungsi sebagai penopang dasar. disini alih-alih menopang dunia, ia justru ditahan oleh sebuah kerangka buatan, dengan warna merah dan hitam yang memperkuat rasa dualitas energi dan bahaya, daya hidup dan kendali.
Dua sistem bekerja secara bersamaan: sistem organik dari kulit, bentuk naga, dan jejak permukaan yang tak beraturan; serta sistem konstruktifberupa geometri kawat, simetri, dan segmentasi. Karya ini berada dalam gesekan antara keduanya. Naga berasal dari ranah organik, namun dipaksa masuk ke dalam struktur konstruktif. Ornamen tembaga di bagian luar, yang mengingatkan pada dekorasi wayang, motif ukiran candi, dan kerajinan logam, tetap ringan dan hampir seperti rangka, menciptakan kontras di mana Pusat terasa padat dan tegang, sementara tepi terbuka dan bersifat seremonial.
Yang muncul bukanlah citra naratif, melainkan suatu keadaan. Karya ini menghadirkan pengurangan energi, penerapan disiplin atas kekuatan, serta pembentukan budaya atas sesuatu yang lebih tua dan elemental. Naga tidak bebas, melainkan terstruktur, terikat, dan dihadirkan. Karya lain menampilkan naga dalam keadaan bebas, melingkar dengan kepala terangkat megah. Karya ini lebih ekspansif dan kurang terkungkung dibanding karya sebelumnya, dan pergeseran ini bersifat menentukan. Naga tidak lagi ditahan dalam geometri tetap, melainkan hadir sebagai tubuh tiga dimensi yang sepenuhnya terartikulasikan, melingkar, bangkit, dan memproyeksikan diri ke ruang. Strukturnya dibangun melalui kisi-kisi potongan kulit kerbau yang dianyam dan diikat dengan kawat tembaga, membentuk tubuh yang sekaligus rangka dan berotot. Kulit yang dipotong menjadi pita-pita berulang menciptakan rritme segmentasi yang mengingatkan pada konstruksi anatomi sekaligus kerajinan anyam, sementara ikatan tembaga memperkuat setiap sambungan dan jahitan, menjadikan proses konstruksi tampak jelas, bukan tersembunyi. Transparansi ini menjadi inti karya. Naga bukan massa padat, melainkan bentuk yang dirakit, bagian demi bagian, seperti artefak atau organisme yang direkonstruksi.
Bagian kepada menjadi zona kompleksitas paling padat. Anyaman kawat semakin rapat dan ornamental, membentuk mahkota yang merujuk langsung pada bahasa dekoratif Bali, sementara elemen menjulang akar di sekujur, mengingatkan terhadap akar yang menghidupkan keseluruhan bentuk. Proyeksi tubuh dengan tidak menjulur mendorong ke luar ruang, menciptakan dorongan karya kembali pada dirinya dan pada alasnya. Elemen ekor kecil yang terangkat di bagian belakang berfungsi sebagai sumbu sekunder, menstrukturkan komposisi dan mencegah energi ke depan menjadi semata-mata linear.
Secara material, interaksi antara kulit kerbau dan kawat lembaga terus membawa bobot struktural sekaligus simbolik. Kulit mempertahankan kualitasnya sebagai "kulit"—bertanda, tak seragam, mengisyaratkan usia, penggunaan, dan transformasi—sementara kawat tembaga menghadirkan presisi, kendali, dan ornamen. Hasilnya adalah ketegangan antara materi organik dan tatanan konstruktif. Berbeda dengan karya sebelumnya, di mana naga terkurung dalam sistem planar, di sini naga menegaskan dirinya secara spasial, namun tetap terikat oleh proses pembuatannya. Setiap lengkung, sambungan, dan perpanjangan bergantung pada ikatan yang tampak atau menyaksikannya.
Efek keseluruhannya adalah keseimbangan antara vitalitas dan kendali. Naga melingkar dan bangkit dengan energi, kepalanya memproyeksikan diri ke luar, namun energi tersebut terus dinegosiasikan melalui disiplin material dan struktur. Karya ini tidak menampilkan naga sebagai lambang mitologis yang halus, melainkan sebagai sesuatu yang direkonstruksi, berlapis, dan bersifat kontingen. Ia sekaligus makhluk dan artefak, sekaligus kekuatan hidup dan bentuk rakitan.
Seluruh karya dalam pameran ini dengan kuat mencerminkan latar belakang arkeologi Agus. Mereka tidak memperlakukan naga sebagai citra mitologis yang mulus, melainkan sebagai sesuatu yang digali, direkonstruksi, dan ditarik ulang. Kulit kerbau mengisyaratkan kulit, perkamen, relik, dan material wayang, sementara kawat tembaga berfungsi seperti pengikat, perbaikan, pemetaan, dan nosional struktural. Dalam beberapa karya, naga menjadi kekuatan yang diawetkan, tertahan dalam kerangka statis. Dalam karya lain, naga bangkit ke dalam dimensi tiga dan penjelmaan baru sebagai altar fungsional atau organisme yang direkonstruksi—diperkuat oleh alur penelusuran, ikatan, dan jahitan yang terlihat. Tubuhnya terasa ranga, arsitektural, sekaligus hidup. Bersama-sama, karya-karya ini menunjukkan arkeologi bukan sekuritas sebagai artefak, melainkan sebagai metode. Agus membangun budaya sebagai sesuatu yang bernapas, rusak, diingat, diperbaiki, dan dihidupkan kembali.
Selected Plates
A closer examination.
Each plate below is presented in the sequence curated for private view — the work unfolds as a moving editorial, each plate bearing its own inscription.
Inspired by this collaboration?
Every project begins with a private audience. Ours could be the conversation that redefines your next chapter.